Embun Es Bak Salju Selimuti di Dieng

Lapakpolitik.com – Di saat beberapa wilayah di Indonesia kekeringan, hutan dan lahan terbakar, dan diterjang gelombang tinggi, pemandangan berbeda terlihat di Pegunungan Dieng, Jawa Tengah. Di Dieng, embun es menghampar laksana salju di pagi hari.

Ayo gabung bersama kami, Agen Bola Terpercaya hanya di Interbolaplay.com

“Ayo berlibur ke Dieng! Jangan lupa bawa jaket,” ungkap Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di akun twitternya, Kamis (25/7).

Embun es laksana salju menurut istilah lokal adalah upas. Jika ini merupakan fenomena yang menarik bagi wisatawan, berbeda menurut petani.

 

BACA JUGA : PDIP: SBY Hanya Fokus Pada Masa Depan AHY

 

Petani Kentang Merugi Jutaan Rupiah

Fenomena embun upas atau embun beku di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, akhir-akhir ini mengakibatkan tanaman kentang mati sehingga petani merugi jutaan rupiah.

Petani Dieng Wetan, Muslimin, mengatakan kerugian petani akibat munculnya embun upas mencapai puluhan juta rupiah.”Saya rugi sekitar Rp25 juta dari lahan yang saya tanami kentang seluas tiga perempat hektare di tiga lokasi,” kata Muslimin di Wonosobo, seperti dikutip dariAntara, Kamis (25/7).

Ia menuturkan embun upas kembali muncul pada Rabu pagi di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Ia mengatakan seperti sebelumnya, para petani sebenarnya sudah mahfum dengan kondisi tersebut, namun setiap terjadi tetap merasa sangat terpukul.

Menanam Wortel

Petani lain, Sugiyono, mengaku tidak terlalu banyak mengalami kerugian, karena sebelumnya sudah menyadari potensi bahaya apabila menanam kentang di bulan Juli-Agustus.

“Kalau saya berdasarkan pengalaman saja, sehingga untuk melalui bulan Juli-Agustus memilih banyak menanam tanaman lain seperti kobis, daun bawang, dan wortel,” katanya.

Menurut dia, jenis tanaman tersebut lebih tahan terhadap munculnya embun upas sehingga dampak kerugian yang ditimbulkan pun tidak terlalu besar.

Selain itu, katanya harga komoditas kentang pada pertengahan tahun tidak terlalu tinggi, yaitu di kisaran Rp 6.000 hingga Rp 8.000 per kilogram tergantung jenis dan kualitasnya.

Aktivis sosial asal Wonosobo, Agus Purnama, yang turut memantau situasi di Dieng mengaku merasa prihatin terhadap kondisi petani kentang.

“Memang semestinya para petani dapat memetik pengalaman, agar di tahun-tahun mendatang tidak mengalami kejadian serupa,” katanya.

Agus berharap agar para petani di kawasan Dieng tidak hanya bergantung pada komoditas kentang dan berupaya untuk menanam jenis tanaman lain yang lebih tahan ketika menghadapi embun beku.

Ayo gabung bersama kami, Agen Bola Terpercaya hanya di Interbolaplay.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *