Diminta Tak Sebarkan Hoaks soal Data Kemiskinan, SBY Beri Penjelasan

Lapakpolitik.com – Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono memberikan penjelasan mengenai data kemiskinan yang sempat ia sampaikan. Diketahui, data yang disampaikan oleh SBY kemudian menjadi perbincangan di lini masa, dan mendapat sejumlah tanggapan dari para tokoh.

Ayo gabung bersama kami, Agen Bola Terpercaya hanya di Interbolaplay.com

Bahkan ada yang meminta SBY tidak main hoaks. Seperti yang diungkapkan oleh Politisi PSI Guntur Romli dan Ketua Progres 98 Faizal Assegaf.

“SBY Sebut Ada 100 Juta Orang Miskin, Istana Minta Lihat Data Tanpa, Pak @SBYudhoyono jangan main hoaks, yuk cek data & bandingkan angka kemiskinan di periode awal SBY & Jokowi,” kicau Guntur Romli melalui akun Twitternya.

 

BACA JUGA : Prabowo Bertemu Elite PAN dan PKS di Rumah Konglomerat Maher Algadri

 

“SBY klaim dirinya dengan Prabowo selama 2 jam berbicara secara jernih & jujur untuk memutuskan berkoalisi. Kepada pers, SBY melempar isu panas bahwa angka rakyat tidak mampu & miskin kini mencapai 100 juta.

Tolong @SBYudhoyono buktikan data valid agar bapak tidak dituding “Dalang Politik Hoaks”

*FA*,” kicau Ketua Progres 98 Faizal Assegaf.

Postingan Faizal Asegaf dan Guntur Romli (Capture/Twitter)

Dilansir TribunWow.com, melalui laman Twitternya yang diunggah pada Rabu (1/8/2018), SBY mengaku banyak yang salah paham dengan apa yang ia sampaikan.

Berikut pernyataan SBY:

“Teman-teman, saya perlu berikan klarifikasi menyangkut pernyataan saya tentang perlunya kita memperhatikan “the bottom 40” *SBY*

Banyak yang salah mengerti arti “the bottom 40%”, kemudian langsung berikan sanggahan ~ “Tak benar jumlah penduduk miskin 100 juta org” *SBY*

Ada pejabat negara yang mengatakan menurut BPS yang miskin hanya sekitar 26 juta.

Tentu saya SANGAT MENGERTI angka itu *SBY*

Istilah “the bottom 40%” digunakan oleh World Bank Group ~ yaitu 40% penduduk “golongan bawah” di masing-masing negara *SBY*

Di negara berkembang yg “income perkapitanya” belum tinggi, mereka termasuk kaum sangat miskin, kaum miskin & di atas miskin (near poor) *SBY*

Dunia tetapkan sasaran kembar (twin objective) dalam pembangunan berkelanjutan ~ “hilangkan kemiskinan ekstrim” & “capai kemakmuran bersama” *SBY*

Ketika saya jadi Ketua HLP PBB (bersama PM Inggris & Presiden Liberia) susun bahan “SDGs”, “the bottom 40%” jadi perhatian utama *SBY*

Postingan SBY (Capture/Twitter)

Kelompok inilah yang mesti dibebaskan dari kemiskinan & ditingkatkan taraf hidupnya, dengan meningkatkan pendapatan (income) mereka *SBY*

Kelompok ini sangat rawan & mudah terdampak, jika ada kemerosotan ekonomi, terutama jika ada kenaikan harga, termasuk sembako *SBY*

Dengan melemahnya ekonomi, “the bottom 40%” alami persoalan. Ini saya ketahui dari hasil survey & dialog saya dengan ribuan rakyat di puluhan kab/kota *SBY*

Inilah yg harus jadi perhatian pemerintah, baik sekarang maupun yang akan datang. Pendapat saya, justru inilah yg harus jadi prioritas *SBY*

Saya juga percaya bahwa angka kemiskinan sekarang sekitar 26 juta org, atau 9,82%. Saya juga tahu tak mudah turunkan angka kemiskinan *SBY*

Pemerintahan SBY-JK & SBY-Boediono (10 th) berhasil turunkan kemiskinan sebesar 6%. Ini kami capai (a.l) dengan “program pro-rakyat” yg masif *SBY*

Pemerintah sekarang dalam waktu 3 tahun berhasil turunkan kemiskinan sebesar 1%. Mudah-mudahan hingga akhir 2019 bisa mencapai 3% *SBY*

Saya dengar pemerintah akan tunda sebagian proyek infrastruktur, guna selamatkan ekonomi kita. Hal ini sudah lama saya sarankan *SBY*

Keputusan & kebijakan pemerintah tersebut (kalau benar) TEPAT. Saya ikut mendukung. Karena berarti negara UTAMAKAN RAKYAT *SBY*

Biasanya dalam musim pemilu, kalau berbeda posisi langsung DIHAJAR. Saya bukan tipe manusia seperti itu. Kalau benar harus saya dukung *SBY*,” tulis SBY.

Postingan SBY (Capture/Twitter)

Diberitakan Kompas.com, Wakil Ketua Komisi XI DPR dari Fraksi Partai Demokrat Marwan Cik Asan memastikan, angka yang disebut SBY pada saat berkunjung di kediaman Prabowo itu sudah berdasarkan perhitungan yang matang.

Ia menjelaskan, SBY menggunakan data Bank Dunia dalam menentukan batas kemiskinan.

Menurut Bank Dunia, seseorang dapat dikategorikan dalam pendapatannya di bawah 2 dolar per hari.

Dengan asumsi kurs 1 dollar sama dengan Rp13.000, maka diperoleh angka Rp26.000 per hari atau Rp780.000 per kapita per bulan.

“Maka, penduduk miskin Indonesia masih sangat tinggi, yaitu diperkirakan mencapai 47 persen atau 120 juta jiwa dari total populasi,” kata Marwan saat dihubungi, Selasa (31/7/2018).

Menurut Marwan, SBY tidak menggunakan data Badan Pusat Statistik (BPS) karena standar batas kemiskinan yang sangat rendah. Angka kemiskinan yang dirilis BPS per Maret 2018 sebesar 25,95 juta jiwa.

Angka kemiskinan yang mencapai 9,8 persen dari total penduduk itu merupakan yang terendah dalam sejarah Indonesia.

Namun, lanjut Marwan, patokanegi kemiskinan yang ditetapkan adalah Rp401.220 per kapita per bulan, atau sekitar Rp13.374 per hari.

Ayo gabung bersama kami, Agen Bola Terpercaya hanya di Interbolaplay.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *