Capres-Cawapres Diprediksi Panas Sampai Akhir Karena 4 Faktor Ini

Lapakpolitik – Pengamat politik UIN Jakarta Gun Gun Heriyanto memprediksi persoalan capres-cawapres jelang Pilpres 2019 akan panas hingga detik-detik akhir. Gun Gun menyebut para partai masih sangat dinamis dalam menentukan siapa capres dan cawapres yang akan mereka ajukan.

Ayo gabung bersama kami, Agen Bola Terpercaya hanya di Interbolaplay.com

 

“Sangat dramatis, terutama pola hubungan antar aktor ada 4 faktor kenapa hubungan koalisi masih dinamis dan cair,” kata Gun Gun di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (28/7).

1. Figur capres-cawapres yang terus berubah

Siapa yang akan menjadi capres dan cawapres masih dinamis. Hal ini karena perbincangan di internal partai dan pertanyaan apakah figur tersebut dapat diterima oleh partai lain atau koalisi. Gun Gun memprediksi hal ini akan terjadi sampai detik akhir pendaftaran.

“Karena variabel aktor ini banyak banget, selain masalah elektoral juga soal jangkar kekuatan politik yang mendukungnya,” ucap Gun Gun.

2. Titik temu untuk kepentingan masing-masing partai

Tidak dapat dipungkiri kalau tiap partai, dengan berkoalisi memiliki agenda dan kepentingan masing-masing untuk masa pemerintah 2019-2024. Salah satu caranya dengan melambungkan nama ketua umumnya atau tokoh masing-masing partai seperti yang dilakukan PAN dengan Zulkifli Hasan, PPP Romahurmuziy, Demokrat dengan AHY dan PKB yang mengusung Muhaimin Iskandar.

“Ini upaya membangun kesadaran bersama secara internal sehingga kemudian bisa melahirkan agenda bersama dan itu jadi penting untuk memanaskan mesin partai dan alat negosiasi. Ini upaya untuk memahami dampak figur pada inspektorat partai di pileg,” jelasnya.

3. Proses hukum yang masih berlangsung

Faktor politik kontesktual juga dapat membuat penetapan Capres-Cawapres berlangsung hingga detik akhir. Seperti Judicial Review Pasal 222 Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum dan gugatan ambang batas calon presiden ke Mahkamah Konstitusi (MK). “Ini masuk variabel politik konteksktual,” sebutnya.

4. Relasi kekuasaan

Faktor terakhir adalah power relation atau relasi kekuasaan. Gun Gun mencontohkan di kubu Joko Widodo yang sudah didukung 6 partai.

Selain faktor poltik kontekstual yang saya maksud adalah dinamika di masing-masing internal terkait power relation atau relasi kekuasaan.

 

BACA JUGA :  Soal Kali Item Anies Koreksi: Tidak Pewangi tapi Penghilang Bau

 

 “Misal di kubu Jokowi. Apakah titik akomodasi politik itu sampai dipenghujung massa pendaftaran bisa kemudian menurunkan ego sektoral masing-masing,” katanya.

Gun Gun juga mempertanyakan pemahaman koalisi pada kubu oposisi Gerindra, PKS, Demokrat.

 “Apakah Demokrat PKS PAN Gerindra bisa menjembatani komunikasi produktif sampai dipemahaman bersama ketika bicara figur siapa yang jadi Capres dan cawapres. Ini masih bisa mengubah peta,” ujarnya.

 

Ayo gabung bersama kami, Agen Bola Terpercaya hanya di Interbolaplay.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *